Dimuat Galamedia, 28 Agustus 2008.
Lazimnya, pada bulan Ramadhan, orang membangunkan sahur dengan cara berteriak atau memukul beduk keliling kampung. Tapi berbeda dengan wilayah pantai utara, Indramayu dan Cirebon. Di daerah pantura ini bukan saja terkena dengan beragam kekayaan laut yang melimpah, tetapi juga beragam tradisi unik ada di sana. Di sana, menjelang sahur akan ramai dengan suara nyanyian yang diiringi musik oleh suatu rombongan yang berkeliling. Bulan Ramadhan kota Indramayu dan Cirebon semarak dengan hingar-bingar musik dari kesenian obrog. Warga di daerah pantai utara (pantura) ini “dibangunkan” dari tidurnya untuk melaksanakan sahur dengan bunyi musik yang khas. Fenomena obrog, sebagai sebuah seni tradisi sangat menarik untuk ditelisik, khususnya pada perubahan media (alat musik), bentuk, dan pergeseran fungsinya.
Apa itu obrog? Nama obrog berasal dari bunyi alat musik yang sering dipakai, semacam kendang/gendang. Tidak diketahui dengan pasti kapan kesenian ini tercipta. Obrog merupakan kesenian yang banyak ditemui selama bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh, rombongan musik obrog berkeliling dari desa ke desa guna membangunkan warga untuk segera begegas makan sahur. Mereka menyusuri desa-desa dengan memainkan alat-alat musik dan bernyanyi pagi-pagi buta. Biasanya beraksi mulai pukul 2 atau 3 dini hari.
Alat-alat musik yang dimainkan oleh rombongan obrog, dahulu berupa alat-alat musik tradisional. Sekarang rombongan obrog bermain dengan menggunakan alat musik modern. Mulai dari gitar elektrik, bass, organ, tamborin, dilengkapi dengan sound system yang didorong di atas roda. Ada juga rombongan obrog yang menyediakan panggung mini yang didorong di atas roda. Para biduannya juga banyak yang membawakan lagu-lagu dangdut kontemporer. Mirip sebuah grup organ tunggal. Pada tahun 1985-an, obrog banyak dimainkan oleh grup dangdut kelas pinggiran dengan perangkat musik yang lengkap. Teknologi karaoke yang marak pada 1990-an turut mewarnai perkembangan obrog. Beberapa tahun belakangan obrog banyak dimainkan dengan organ tunggal. Pada saat bulan puasa tiba, grup obrog menjamur di sekitar wilayah pantura. Satu grup obrog biasanya masih terikat hubungan kerabat. Dahulu para pelakunya melulu kaum laki-laki. Ini disebabkan karena kaum perempuan dianggap tabu untuk keluar malam oleh masyarakat. Namun sekarang rombongan obrog banyak menyertakan perempuan di dalamnya, terutama yang bertindak sebagai seorang biduan.
Perubahan
Perubahan-perubahan ini memang wajar. Obrog bukanlah produk kesenian yang sakral. Ia dapat berubah sesuai dengan keadaan dan tuntutan zaman, serta keinginan/selera masyarakat pendukungnya. Penggunaan alat-alat musik modern adalah bentuk tuntutan zaman yang diikuti oleh para pelaku seni ini. Hal lain yang unik dari obrog, yaitu saat Idul Fitri (Lebaran) tiba, masyarakat akan memberi uang, beras, atau makanan sebagai ucapan terima kasih karena mereka telah dibangunkan sahur selama bulan puasa. Ini adalah wujud hubungan timbal-balik antara pelaku seni obrog dan masyarakat.
Setiap kegiatan seni memiliki sebuah fungsi. Edi Sedyawati (2006: 366) menyebutkan fungsi seni, yaitu: sebagai penyalur kekuatan adi-kodrati; penyalur bakti kepada Tuhan (religius); melestarikan warisan nenek moyang; sarana atau komponen pendidikan; kegiatan bersenang dan berhibur; sarana pencaharian hidup. Di masa lalu obrog erat sekali dengan fungsi penyalur bakti pada Tuhan (religius). Tujuan utama obrog adalah membangunkan orang untuk bersantap sahur. Secara langsung mereka juga berperan mengajak orang untuk beribadah. Selain itu, obrog menjadi media komunikasi sosial masyarakat. Namun, kini fungsi tersebut perlahan telah bergeser. Fungsinya kini lebih kepada sarana pencaharian hidup (ekonomis/komersil). Kebanyakan rombongan obrog berkeliling untuk meraup penghasilan. Biasanya mereka menarik uang/saweran untuk permintaan sebuah lagu.
Awalnya, nilai dari penganut obrog adalah pengabdian. Seiring dengan perkembangan zaman yang menjadi semakin praktis maka orang juga akan berpikir semakin praktis. Pada akhirnya penganut obrog akan berpikir ekonomi supaya mendapatkan penghasilan melalui obrog. Lazimnya, rombongan obrog memulai aksinya pada pukul 2 dini hari. Namun sekarang karena tujuan komersil tadi, banyak rombongan yang memulai berkeliling dari pukul 22.00, jauh sebelum waktu sahur tiba. Mereka adu cepat untuk berangkat ngobrog keliling kampung, dan tentunya memilih tempat kunjungan yang “tepat”. Generasi penerus perlu mengetahui fungsi utama obrog, yakni religius (beramal). Jangan sampai fungsi utama ini hilang begitu saja, dan tergantikan oleh makna materil (mencari uang) semata. Sudah sepatutnya obrog dikembalikan ke makna semula, yaitu beramal. Mudah-mudahan kesenian unik yang ada setiap bulan Ramadhan ini tetap lestari.
Minggu, 20 September 2009
Senin, 14 September 2009
KETIKA CINTA HARUS BERANJAK PERGI
Dalam kegelapan malam yang kelam, aku terdiam membisu. Tak tahu apa yang akan aku perbuat, dan tak mengerti apa yang harus aku cari. Entah kemana kini aku harus berjalan. Kakiku terlalu berat untuk melangkah. Suara bising kendaraan terlalu mengusik kediamanku. Saat ini aku hanya ingin ketenangan dan kedamaian yang kan menyelimuti gundah jiwaku. Terkadang aku ingin menyanyikan lagu patah hati yang saat ini aku rasa, namun suaraku terasa sumbang walau untuk aku dengar sendiri. Keadaan ini terlalu membuat hidupku seolah mati.
Siang tadi, cinta yang kuharap kan abadi singgah dalam hatiku telah berlalu meninggalkanku terkapar dalam kepedihan. Terlalu munafik rasanya bila aku harus menganggapnya suatu hal yang biasa. Terlalu indah bila harus kuhapuskan begitu saja dari memori kenanganku.
“Sudahlah, relakan semuanya pergi. Kau takkan dapat hidup dalam kesedihan untuk selamanya”. Hembusan angin malam yang ikut merasakan lara batinku seakan memberikan pitutur nasehat kepadaku.
“tak mungkin aku harus melupakannya. Terlalu sombong bila aku saat ini juga harus merelakan kepergiannya”. Jiwaku yang telah terkoyak berteriak menjawabnya.
Mentari yang menebarkan sinar kedamaian telah merasuk ke dalam setiap celah-celah kamarku. Memberikan isyarat jika hari ini aku harus bangkit dan mengahadapi duniaku kembali. Selesai mandi dan siap-siap, kemudian jalanan yang telah ramai sudah menerimaku menjadi bagiannya. Sesampainya di gerbang sekolah, ternyata suasana telah ramai. Dan tak sadar di belakangku telah berdiri teman karibku yang bernama Wawan.
“sabar sob, mungkin dia memang bukanlah yang terbaik bagi hidupmu”. Wawan memberikan support kepadaku dalam menghadapi masalah ini. sob adalah sapaan akrab kami berdua. Sebab namaku adalah Obie.
“yups, Thanks ya?”. Jawabku singkat tanpa ekspresi.
“Tuhan itu Maha Tahu apa yang dibutuhkan dan terbaik bagi hamba-Nya”. Wawan melanjutkan nasihatnya sambil berjalan mengikuti langkah kakiku menuju ke kelas yang mulai ramai.
Siang sepulang sekolah kemarin, seorang cewek yang bernama Jingga telah meninggalkan aku. Memang belum terhitung lama kami tertaut dalam tali asmara ini. Baru satu tahun. Namun bagiku Jingga telah mengisi sebagian kekosongan jiwaku. Alasan yang ia utarakan untuk perpisahan aku dengannya memang masalah yang tak dapat dielakkan lagi. Jingga telah termakan budaya zaman Siti Nurbaya. Ia telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Meski alasan itu dapat aku terima, namun itu terlalu sulit untuk masuk ke dalam alam fikir sadarku.
Aku hanya mampu diam dan menundukkan kepala ketika ia mengutarakan maksud dan alasannya untuk meninggalkan aku. Dalam hati aku selalu berharap yang terjadi saat itu adalah sebuah mimpi. Dan tak kan pernah terjadi dalam hidupku. Tapi itulah kenyataan. Datang untuk dihadapi bukan untuk dihindari, meski harus menyisakan perih di hati..
Hamparan-hamparan tanah luas yang dulu pernah menjadi tempat kami saling berbagi dan becerita kini tinggallah saksi bisu yang kusam. Syair-syair puisi yang dulu ku rangakai untuknya saat ini hanyalah kata-kata lusuh yang menyumpal gendang telinga bila dilantunkan. Harapan-harapan yang dulu kita ucapan sekarang tak lain adalah kenangan yang menyakitkan.
“kuda apa yang paling membuat aku merasa bahagia?”. Ucap Jingga tiba-tiba dengan manja, tiga hari sebelum menyatakan perpisahan denganku di atas sebuah bukit yang terletak tak jauh dari kawasan kota Jogja
“em. . ., apa yach . . .?”. jawabku sok bingung. Padahal menurutku jawaban itu tak begitu berarti, yang penting saat itu aku merasa bahagia dapat selalu dengannya.
“kuda-pat memiliki hatimu dan meraih cintamu”. Jingga melanjutkan jawabannya dengan suara syahdu sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Pada saat itu jiwaku seakan melayang terbang bersamanya mengarungi samudera lepas.
Kini semua kisah itu hanyalah sisa-sisa puing kenangan. Namun aku akan selalu mencoba bangkit menghadapi realitas hidup ini. Aku akan mencoba mengukir kisah cinta baru di hari yang banyak disebut oleh orang-orang adalah hari kasih sayang ini. Valentine’s Day.
Siang tadi, cinta yang kuharap kan abadi singgah dalam hatiku telah berlalu meninggalkanku terkapar dalam kepedihan. Terlalu munafik rasanya bila aku harus menganggapnya suatu hal yang biasa. Terlalu indah bila harus kuhapuskan begitu saja dari memori kenanganku.
“Sudahlah, relakan semuanya pergi. Kau takkan dapat hidup dalam kesedihan untuk selamanya”. Hembusan angin malam yang ikut merasakan lara batinku seakan memberikan pitutur nasehat kepadaku.
“tak mungkin aku harus melupakannya. Terlalu sombong bila aku saat ini juga harus merelakan kepergiannya”. Jiwaku yang telah terkoyak berteriak menjawabnya.
Mentari yang menebarkan sinar kedamaian telah merasuk ke dalam setiap celah-celah kamarku. Memberikan isyarat jika hari ini aku harus bangkit dan mengahadapi duniaku kembali. Selesai mandi dan siap-siap, kemudian jalanan yang telah ramai sudah menerimaku menjadi bagiannya. Sesampainya di gerbang sekolah, ternyata suasana telah ramai. Dan tak sadar di belakangku telah berdiri teman karibku yang bernama Wawan.
“sabar sob, mungkin dia memang bukanlah yang terbaik bagi hidupmu”. Wawan memberikan support kepadaku dalam menghadapi masalah ini. sob adalah sapaan akrab kami berdua. Sebab namaku adalah Obie.
“yups, Thanks ya?”. Jawabku singkat tanpa ekspresi.
“Tuhan itu Maha Tahu apa yang dibutuhkan dan terbaik bagi hamba-Nya”. Wawan melanjutkan nasihatnya sambil berjalan mengikuti langkah kakiku menuju ke kelas yang mulai ramai.
Siang sepulang sekolah kemarin, seorang cewek yang bernama Jingga telah meninggalkan aku. Memang belum terhitung lama kami tertaut dalam tali asmara ini. Baru satu tahun. Namun bagiku Jingga telah mengisi sebagian kekosongan jiwaku. Alasan yang ia utarakan untuk perpisahan aku dengannya memang masalah yang tak dapat dielakkan lagi. Jingga telah termakan budaya zaman Siti Nurbaya. Ia telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Meski alasan itu dapat aku terima, namun itu terlalu sulit untuk masuk ke dalam alam fikir sadarku.
Aku hanya mampu diam dan menundukkan kepala ketika ia mengutarakan maksud dan alasannya untuk meninggalkan aku. Dalam hati aku selalu berharap yang terjadi saat itu adalah sebuah mimpi. Dan tak kan pernah terjadi dalam hidupku. Tapi itulah kenyataan. Datang untuk dihadapi bukan untuk dihindari, meski harus menyisakan perih di hati..
Hamparan-hamparan tanah luas yang dulu pernah menjadi tempat kami saling berbagi dan becerita kini tinggallah saksi bisu yang kusam. Syair-syair puisi yang dulu ku rangakai untuknya saat ini hanyalah kata-kata lusuh yang menyumpal gendang telinga bila dilantunkan. Harapan-harapan yang dulu kita ucapan sekarang tak lain adalah kenangan yang menyakitkan.
“kuda apa yang paling membuat aku merasa bahagia?”. Ucap Jingga tiba-tiba dengan manja, tiga hari sebelum menyatakan perpisahan denganku di atas sebuah bukit yang terletak tak jauh dari kawasan kota Jogja
“em. . ., apa yach . . .?”. jawabku sok bingung. Padahal menurutku jawaban itu tak begitu berarti, yang penting saat itu aku merasa bahagia dapat selalu dengannya.
“kuda-pat memiliki hatimu dan meraih cintamu”. Jingga melanjutkan jawabannya dengan suara syahdu sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Pada saat itu jiwaku seakan melayang terbang bersamanya mengarungi samudera lepas.
Kini semua kisah itu hanyalah sisa-sisa puing kenangan. Namun aku akan selalu mencoba bangkit menghadapi realitas hidup ini. Aku akan mencoba mengukir kisah cinta baru di hari yang banyak disebut oleh orang-orang adalah hari kasih sayang ini. Valentine’s Day.
بسم الله الرحمن الرحيم Perkembangan Syi’ah di Indonesia ditinjau dari segi HANKAMNAS dan PANCASILA
Saat ini masyarakat sedang dihadapkan pada satu keadaan yang sangat meresahkan dan membahayakan, dikarenakan terus berkembangnya aliran sesat Syi’ah di Indonesia. Keadaan yang tidak menyenangkan ini telah merusak persatuan dan kesatuan bangsa kita. Sehingga banyak Ulama yang bangun berusaha menyelamatkan masyarakat dari faham yang menyesatkan tersebut.
Kemudian melihat bahayanya bagi bangsa dan negara apabila aliran sesat tersebut terus berkembang di Indonesia, maka Redaksi Ash-Showaaiq meminta kepada Yayasan ALBAYYINAT untuk membahasnya. Namun kali ini kami menghendaki pembahasannya dari segi :
H A N K A M N A S DAN P A N C A S I L A.
Semoga kajian dibawah ini dapat dimanfaatkan oleh pihak pihak yang berkepentingan.
بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam kesempatan ini kami tidak akan membahas aliran Syi’ah dari segi agama, sebab para Ulama Islam sudah sepakat bahwa ajaran Syi’ah Imamiyyah Itsna’asyariyyah yang berpusat di Iran itu sesat dan keluar dari Islam ( Kafir ). Tapi kali ini kami akan membahas berbahayanya aliran Syi’ah bagi bangsa dan negara kita, sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Redaksi Ash-Showaaiq.
Sampai saat ini kami kalau sholat selalu memohon kepada Alloh Swt agar Syi’ah di Indonesia tidak sampai kuat. Sebab apabila mereka sampai kuat, maka kami khawatir apa yang terjadi di Iraq, Pakistan, India dan di Timur Tengah lainnya, yaitu saling bunuh antara Ahlussunnah dengan Syiah akan terjadi di Indonesia. Dan ini kami rasa tidak bisa dielakkan.
Bagaimana tidak akan terjadi?.
Sebagaimana kita ketahui, Indonesia ini adalah bumi Ahlussunnah Waljamaah, dimana Muslimin Indonesia sangat menghormati dan mencintai serta menjunjung tinggi pemimpin pemimpin islam. Kita sangat menghormati para Sahabat, Istri Istri Rosululloh Saw dan para Imam Ahlussunnah. Sikap kita Ahlussunnah Waljamaah jelas, yaitu kita siap berkorban apa saja, baik harta benda maupun jiwa raga kita demi membela mereka.
Kemudian datang orang orang Syi’ah dari Iran atau orang orang yang sudah dikader di Iran kebumi Ahlussunnah Waljamaah dan tanpa sopan mencaci maki dan melaknat pemimpin pemimpin kita. Pemimpin pemimpin yang kita hormati dan kita jadikan panutan tersebut mereka kafirkan dan mereka murtadkan.
Hal ini berakibat sangat meresahkan masyarakat dan tentu membuat kita marah dan tidak bisa menerima perlakuan mereka. Bagaimana kita akan tinggal diam menerima kekurang ajaran mereka, bagaimana kita akan diam melihat kebiadaban mereka. Karenanya apa yang terjadi diluar negeri yaitu saling bunuh antara Ahlussunnah dengan Syi’ah akan terjadi di Indonesia dan ini tidak bisa dihindarkan. Sebab hal yang seperti ini sudah terjadi dibeberapa negara, dan hampir setiap hari dapat kita saksikan di Televisi Televisi kita.
Jika sekarang cara mereka berkampanye masih melalui buku buku dan door to door sembunyi sembunyi, karena mereka sungkan dan takut kepada Muslimin Indonesia yang dikenal beraqidah Ahlussunnah Waljamaah, maka apabila mereka merasa sudah kuat, mereka akan kampanye dijalan jalan tanpa sungkan lagi dan akan terang terangan mencaci maki pemimpin pemimpin islam, para Sahabat dan Istri Istri Rosululloh Saw.
Sekarang saja dimana mereka belum kuat, bukan rahasia lagi bahwa akibat dari berkembangnya aliran Syi’ah di Indonesia telah terjadi perpecahan dan permusuhan didalam masyarakat. Banyak bukti yang menunjukkan terjadinya pertengkaran dan perpecahan antara ayah dengan anaknya, suami dengan istrinya, kakak dengan adiknya, ibu dengan anaknya, guru dengan muridnya, seseorang dengan temannya dan tetangganya. Sehingga banyak rumah tangga yang dahulunya harmonis men’jadi berantakan, suasana perkampungan yang sebelumnya penghuninya saling sapa dan memberikan salam, menjadi saling bermusuhan, kepengurusan organisasi yang dahulunya kompak men’jadi pecah dan masing masing individu saling men’jatuhkan, suasana masyarakat yang dahulunya hidup damai dan saling tolong menolong, men’jadi resah dan saling bermusuhan.
Sebenarnya suasana yang tidak menyenangkan tersebut, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat saja, tapi pemerintah juga sudah mencium adanya akibat yang timbul dari penyebaran aliran sesat Syi’ah. Karena itu pemerintah sudah berulang kali baik melalui MUI maupun aparat didaerah, menyerukan agar masyarakat mewaspadai aliran Syi’ah.
Pemerintah menyadari bahwa apabila pemerintah tidak cepat cepat bertindak, maka pemerintah akan kewalahan dan tidak bisa berbuat banyak. Hanya saja pemerintah masih menunggu waktu yang tepat untuk bertindak. Dalam hal ini kami rasa aparat pemerintah sudah mengantongi nama nama aktivis mereka
Sekarang saja dimana mereka masih sangat sedikit, sudah terjadi keributan keributan dan saling pukul antara orang orang Sunni dengan orang orang Syi’ah, namun apabila mereka sampai kuat, maka hal hal yang tidak kita inginkan akan terjadi.
Di dalam ajaran Ahlussunnah Waljamaah, I R H A B atau T E R O R tidak ada dan tidak dibenarkan, namun didalam ajaran Syi’ah Irhab atau Teror ada dan dibenarkan dan selalu dikerjakan diberbagai Negara.
Mereka itu sangat taat kepada atasan atau pemimpin atau Imamnya dan gerakan tutup mulutnya tidak diragukan dan sudah teruji. Disamping gerakan mereka yang terorganisir, mereka didukung dana yang besar sekali, maklum didukung satu Negara yang kaya. Dengan dana tersebut beberapa tokoh kita telah dibrangus, sehingga mereka tidak berani atau tidak mau berkomentar mengenai kesesatan Syi’ah dan bahayanya bagi agama bangsa dan negara.
Berbeda dengan aliran aliran sesat yang lain, aliran sesat Syi’ah mempunyai jaringan Internasional yang terorganisir. Oleh karena itu penanganannya agak berat apabila hanya dilakukan oleh para Ulama, tapi turun tangan pemerintah dalam masalah Syi’ah sangat diharapkan.
Dalam hal ini Pemerintah mempunyai pengalaman dalam menghadapi bahaya Kumunisme di Indonesia, dimana walaupun kita tetap berhubungan dengan Rusia dan RRT, tapi faham Komunisme dilarang di Indonesia. Sama seperti di Malaysia dan Brunai, meskipun mereka berhubungan dengan IRAN, tapi faham Syi’ah dilarang di Malaysia dan di Berunai.
Untuk itu dalam kesempatan ini, kami menghimbau kepada pemerintah agar secepatnya mengambil sikap yang lebih tegas kepada mereka, karena kami tidak menghendaki apa apa yang sudah mereka lakukan baik didalam negeri maupun diluar negeri terulang kembali dibumi pertiwi ini.
Sekali lagi kami informasikan, bahwa didunia ini tidak ada satu Negara yang berada dalam keadaan aman dan tenteram, apabila dinegara tersebut berkembang aliran Syi’ah.
Sekarang tinggal pemerintah yang mengambil keputusan, apakah pemerintah masih akan membiarkan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila berkembang terus dibumi pertiwi ini?. Apakah pemerintah akan membiarkan berkembang terus aliran yang ajarannya sangat meresahkan masyarakat dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa kita?. Apakah pemerintah akan membiarkan gerakan Syi’ah yang jelas jelas dapat membahayakan negara kita?.
Sekarang bola ada ditangan pemerintah, terserah pemerintah, mau diapakan. Namun dalam hal ini pemerintah yang bertanggung jawab, apabila sampai terjadi hal hal yang tidak kita inginkan, sebab kesabaran itu ada batasnya.
Semoga negara kita dijaga dan diselamatkan dari aliran sesat Syi’ah dan dari aliran aliran sesat yang lain.
Demikian akibat berkembangnya aliran sesat Syi’ah di Indonesia ditinjau dari segi HANKAMNAS dan PANCASILA.
Semoga apa yang kami sampaikan diatas dapat membantu pemerintah dalam menentukan sikap terhadap aliran sesat Syi’ah.
ASH-SHOWAAIQ EDISI AGUSTUS 2006
Kemudian melihat bahayanya bagi bangsa dan negara apabila aliran sesat tersebut terus berkembang di Indonesia, maka Redaksi Ash-Showaaiq meminta kepada Yayasan ALBAYYINAT untuk membahasnya. Namun kali ini kami menghendaki pembahasannya dari segi :
H A N K A M N A S DAN P A N C A S I L A.
Semoga kajian dibawah ini dapat dimanfaatkan oleh pihak pihak yang berkepentingan.
بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam kesempatan ini kami tidak akan membahas aliran Syi’ah dari segi agama, sebab para Ulama Islam sudah sepakat bahwa ajaran Syi’ah Imamiyyah Itsna’asyariyyah yang berpusat di Iran itu sesat dan keluar dari Islam ( Kafir ). Tapi kali ini kami akan membahas berbahayanya aliran Syi’ah bagi bangsa dan negara kita, sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Redaksi Ash-Showaaiq.
Sampai saat ini kami kalau sholat selalu memohon kepada Alloh Swt agar Syi’ah di Indonesia tidak sampai kuat. Sebab apabila mereka sampai kuat, maka kami khawatir apa yang terjadi di Iraq, Pakistan, India dan di Timur Tengah lainnya, yaitu saling bunuh antara Ahlussunnah dengan Syiah akan terjadi di Indonesia. Dan ini kami rasa tidak bisa dielakkan.
Bagaimana tidak akan terjadi?.
Sebagaimana kita ketahui, Indonesia ini adalah bumi Ahlussunnah Waljamaah, dimana Muslimin Indonesia sangat menghormati dan mencintai serta menjunjung tinggi pemimpin pemimpin islam. Kita sangat menghormati para Sahabat, Istri Istri Rosululloh Saw dan para Imam Ahlussunnah. Sikap kita Ahlussunnah Waljamaah jelas, yaitu kita siap berkorban apa saja, baik harta benda maupun jiwa raga kita demi membela mereka.
Kemudian datang orang orang Syi’ah dari Iran atau orang orang yang sudah dikader di Iran kebumi Ahlussunnah Waljamaah dan tanpa sopan mencaci maki dan melaknat pemimpin pemimpin kita. Pemimpin pemimpin yang kita hormati dan kita jadikan panutan tersebut mereka kafirkan dan mereka murtadkan.
Hal ini berakibat sangat meresahkan masyarakat dan tentu membuat kita marah dan tidak bisa menerima perlakuan mereka. Bagaimana kita akan tinggal diam menerima kekurang ajaran mereka, bagaimana kita akan diam melihat kebiadaban mereka. Karenanya apa yang terjadi diluar negeri yaitu saling bunuh antara Ahlussunnah dengan Syi’ah akan terjadi di Indonesia dan ini tidak bisa dihindarkan. Sebab hal yang seperti ini sudah terjadi dibeberapa negara, dan hampir setiap hari dapat kita saksikan di Televisi Televisi kita.
Jika sekarang cara mereka berkampanye masih melalui buku buku dan door to door sembunyi sembunyi, karena mereka sungkan dan takut kepada Muslimin Indonesia yang dikenal beraqidah Ahlussunnah Waljamaah, maka apabila mereka merasa sudah kuat, mereka akan kampanye dijalan jalan tanpa sungkan lagi dan akan terang terangan mencaci maki pemimpin pemimpin islam, para Sahabat dan Istri Istri Rosululloh Saw.
Sekarang saja dimana mereka belum kuat, bukan rahasia lagi bahwa akibat dari berkembangnya aliran Syi’ah di Indonesia telah terjadi perpecahan dan permusuhan didalam masyarakat. Banyak bukti yang menunjukkan terjadinya pertengkaran dan perpecahan antara ayah dengan anaknya, suami dengan istrinya, kakak dengan adiknya, ibu dengan anaknya, guru dengan muridnya, seseorang dengan temannya dan tetangganya. Sehingga banyak rumah tangga yang dahulunya harmonis men’jadi berantakan, suasana perkampungan yang sebelumnya penghuninya saling sapa dan memberikan salam, menjadi saling bermusuhan, kepengurusan organisasi yang dahulunya kompak men’jadi pecah dan masing masing individu saling men’jatuhkan, suasana masyarakat yang dahulunya hidup damai dan saling tolong menolong, men’jadi resah dan saling bermusuhan.
Sebenarnya suasana yang tidak menyenangkan tersebut, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat saja, tapi pemerintah juga sudah mencium adanya akibat yang timbul dari penyebaran aliran sesat Syi’ah. Karena itu pemerintah sudah berulang kali baik melalui MUI maupun aparat didaerah, menyerukan agar masyarakat mewaspadai aliran Syi’ah.
Pemerintah menyadari bahwa apabila pemerintah tidak cepat cepat bertindak, maka pemerintah akan kewalahan dan tidak bisa berbuat banyak. Hanya saja pemerintah masih menunggu waktu yang tepat untuk bertindak. Dalam hal ini kami rasa aparat pemerintah sudah mengantongi nama nama aktivis mereka
Sekarang saja dimana mereka masih sangat sedikit, sudah terjadi keributan keributan dan saling pukul antara orang orang Sunni dengan orang orang Syi’ah, namun apabila mereka sampai kuat, maka hal hal yang tidak kita inginkan akan terjadi.
Di dalam ajaran Ahlussunnah Waljamaah, I R H A B atau T E R O R tidak ada dan tidak dibenarkan, namun didalam ajaran Syi’ah Irhab atau Teror ada dan dibenarkan dan selalu dikerjakan diberbagai Negara.
Mereka itu sangat taat kepada atasan atau pemimpin atau Imamnya dan gerakan tutup mulutnya tidak diragukan dan sudah teruji. Disamping gerakan mereka yang terorganisir, mereka didukung dana yang besar sekali, maklum didukung satu Negara yang kaya. Dengan dana tersebut beberapa tokoh kita telah dibrangus, sehingga mereka tidak berani atau tidak mau berkomentar mengenai kesesatan Syi’ah dan bahayanya bagi agama bangsa dan negara.
Berbeda dengan aliran aliran sesat yang lain, aliran sesat Syi’ah mempunyai jaringan Internasional yang terorganisir. Oleh karena itu penanganannya agak berat apabila hanya dilakukan oleh para Ulama, tapi turun tangan pemerintah dalam masalah Syi’ah sangat diharapkan.
Dalam hal ini Pemerintah mempunyai pengalaman dalam menghadapi bahaya Kumunisme di Indonesia, dimana walaupun kita tetap berhubungan dengan Rusia dan RRT, tapi faham Komunisme dilarang di Indonesia. Sama seperti di Malaysia dan Brunai, meskipun mereka berhubungan dengan IRAN, tapi faham Syi’ah dilarang di Malaysia dan di Berunai.
Untuk itu dalam kesempatan ini, kami menghimbau kepada pemerintah agar secepatnya mengambil sikap yang lebih tegas kepada mereka, karena kami tidak menghendaki apa apa yang sudah mereka lakukan baik didalam negeri maupun diluar negeri terulang kembali dibumi pertiwi ini.
Sekali lagi kami informasikan, bahwa didunia ini tidak ada satu Negara yang berada dalam keadaan aman dan tenteram, apabila dinegara tersebut berkembang aliran Syi’ah.
Sekarang tinggal pemerintah yang mengambil keputusan, apakah pemerintah masih akan membiarkan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila berkembang terus dibumi pertiwi ini?. Apakah pemerintah akan membiarkan berkembang terus aliran yang ajarannya sangat meresahkan masyarakat dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa kita?. Apakah pemerintah akan membiarkan gerakan Syi’ah yang jelas jelas dapat membahayakan negara kita?.
Sekarang bola ada ditangan pemerintah, terserah pemerintah, mau diapakan. Namun dalam hal ini pemerintah yang bertanggung jawab, apabila sampai terjadi hal hal yang tidak kita inginkan, sebab kesabaran itu ada batasnya.
Semoga negara kita dijaga dan diselamatkan dari aliran sesat Syi’ah dan dari aliran aliran sesat yang lain.
Demikian akibat berkembangnya aliran sesat Syi’ah di Indonesia ditinjau dari segi HANKAMNAS dan PANCASILA.
Semoga apa yang kami sampaikan diatas dapat membantu pemerintah dalam menentukan sikap terhadap aliran sesat Syi’ah.
ASH-SHOWAAIQ EDISI AGUSTUS 2006
Asal-Usul Lukisan Nabi Muhammad
Bertahun-tahun diterbitkan gambar yang disebut sebagai gambar masa mudanya Nabi Muhammad saw di Iran. Masyarakat Iran di samping menunjukkan rasa suka terhadap gambar itu, mereka juga mempertanyakan keabsahannya. Sebagian menyebutkan bahwa gambar itu dilukis oleh pendeta Buhaira yang sempat mengiringi Nabi Muhammad saw bersama pamannya ke Syam. Pada kenyataannya, banyak yang meragukan jawaban ini.
Tulisan berikut ini adalah usaha untuk mencari sumber asli gambar masa muda Nabi Muhammad saw. Para penulis berusaha mengargumentasikan dari mana asal gambar itu. Namun, kelihatannya, masalah ini senantiasa terbuka untuk dijadikan kajian.
Tulisan ini adalah hasil terjemahan yang dilakukan oleh Rasul Ja’fariyah dari makalah yang judul aslinya The Story of Picture Shiite Depictions of Muhammad, Pierree Centlivre & Micheline Centlivres-Demont dalam majalah ISIM Review 17, Spring 2006, hal 18-19.
Syiah Iran punya pengalaman yang cukup panjang dalam menggambarkan keluarga Nabi Muhammad saw dan Nabi sendiri. Pada akhir-akhir dekade 90 –an poster yang menggambarkan wajah Nabi Muhammad saw di cetak di Iran dan menjadi salah satu poster terlaris. Dalam poster itu menggambarkan wajah masa muda dari Nabi Muhammad saw.
Saat ini, poster ini dicetak dengan mempergunakan teknologi modern dengan alat dan teknik yang beragam. Sekalipun demikian, struktur gambar masih mempertahankan gaya tradisionalnya. Warna yang dipakai masih mempertahankan kesederhanaan. Namun, tetap saja memiliki kelebihan yang membedakannya secara mudah dari gambar yang lain seperti pedang Ali as yang memiliki dua mata.
Penggambaran yang akan kami bawakan berbeda dengan penggambaran sebelumnya. Gambar seorang pemuda tampan, mata sendu dan wajah yang menenangkan hati mengingatkan orang akan gambar-gambar di zaman Renaisan. Terutama gambar-gambar tentang pemuda yang dilukis oleh Caravagio seperti lukisan Boy Carrying a Fruit Basket yang berada di galeri Borghese, Roma dan lukisan Saint John The Baptist di museum Capitole. Kelembutan bak beludru, mulut yang setengah terbuka dan tatapan sendu.
Sekalipun ada beberapa naskah dari gambar ini, namun semuanya menunjukkan kesan muda dan di bawahnya tertulis “Muhammad Rasulullah”, bahkan sebagian memberikan informasi lebih detil tentang periode kehidupan Nabi ketika lukisan ini dilukis serta sumber lukisan sekaligus.
Penemuan menarik
Pada tahun 2004, ketika menyaksikan pameran foto dua orang seni rupa Lehnert dan Landrock, secara tidak disengaja akhirnya tersingkap juga sumber poster Iran itu. Itu dapat dilihat di foto Lehnert sepanjang tahun 1904-1906 yang diambilnya di Tunisia. Foto ini kemudian pada dekade 20 –an dicetak dalam kartu ucapan selamat.
Radolf Franz Lehnert (1878-1948) adalah warga negara Chekoslowakia sekarang. Pada tahun 1904 bersama Ernst Heinrich Landorck (1878-1966) berkebangsaan Jerman, bersama-sama menuju Tunisia. Lehnert sebagai fotografer dan Landrock sebagai penerbit dan direktur. Tahun sebelumnya, Lehnert pernah tinggal sebentar di Tunisia. Saat itulah ia jatuh cinta dengan alam di sana dan penduduknya. Keduanya membangun perusahaan L & L yang beroperasi di bidang penerbitan foto-foto dari pemandangan indah Tunisia dan Mesir. Hasilnya adalah ribuan foto dan kartu dengan gambar daerah ini yang dicetak.
Lehnert pernah mengenyam pendidikan di Yayasan Seni Grafis di Vienna. Ia punya hubungan dengan anggota Pictorialist yang menganggap foto sebagai karya seni. Foto-foto Lehnert tidak saja berbicara mengenai gurun pasir, bukit-bukit pasir, pasar dan kawasan penduduk Tunisia, tapi juga foto-foto dari remaja putra dan putri yang umurnya antara anak dan remaja dan masih memiliki wajah antara laki dan wanita. Foto-foto ini biasanya diambil sesuai dengan pesanan pembeli Eropanya. Foto tentang dunia Timur yang memberikan nuansa lain.
Lehnert sangat memanfaatkan kesempatan ini, namun ia juga mengolah kejeniusannya dalam menyiapkan karyanya. Foto-fotonya dicetak dalam bentuk perak, dalam bentuk gambar timbul dan dibuat dalam empat warna. Kebanyakan dari kartu ucapan selamatnya ini dicetak di Jerman sejak tahun 1920 dan disebarkan di Mesir.
Cetakan-cetakan dan teks yang sesuai
Tidak diragukan bahwa kartu yang ditunjukkan dalam bentuk 1, berdasarkan penomoran L & L, nomornya adalah 106 dikenal dengan poster Iran. Yang lebih menarik nama kartu nomor 106 adalah Muhammad. Ini dengan sendirinya dapat menunjukkan mengapa pelukis Iran menjadikannya sebagai model untuk lukisan Nabi Muhammad saw. Tidak ragu lagi, semua naskah yang ada dari foto ini menjadikan foto nomor 106 sebagai contoh dengan perbedaan bahwa naskah pertama lebih sesuai dengan foto yang asli. Dengan demikian, Lehnert tanpa disengaja ditempatkan dalam hati sebuah legenda.
Pertanyaan mengenai hubungan antara wajah Nabi Muhammad saw dan wajah remaja Tunisia belum mendapatkan jawabannya. Lukisan seorang remaja tertawa dengan mulut setengah terbuka, memakai sorban dan bunga melati di telinga. Wajah yang sama dalam kartu yang lain dengan judul Ahmad, seorang remaja Arab dan lain-lainnya.
Kami belum mampu menyingkap perjalanan foto yang dicetak di dekade 20 –an yang sampai di tangan penerbit Teheran dan Qom di dekade 90 –an. Namun, masih ada pertanyaan apa yang menyebabkan penerbit Iran menemukan adanya kesamaan antara wajah Nabi Muhammad semasa remajanya dengan seorang remaja Tunisia?
Sebelum perang dunia pertama, gambar Muhammad di majalah National Geographic pada bulan Januari tahun 1914 dalam sebuah artikel dengan judul “Inja va Anja Dar Shumal Afriqa” (Di sana dan di sini di Utara Afrika), di bawahnya tertulis “Arabi ba Yek Gol” (Seorang Arab dengan sebuah bunga). Pada dekade dua puluhan, kartu seri Tunisia L & L sangat disukai oleh tentara Prancis di Utara Afrika. Pada dekade 80 dan 90 –an banyak buku yang dicetak yang memuat foto-foto ini, namun judulnya bukan Muhammad.
Naskah Iran yang sekarang sudah ada perubahan. Wajah yang menipu itu masih terjaga, namun keindahan wajahnya agak berkurang. Pundak sebelah kirinya agak lebih tertutup dengan kain, mulut dan matanya sudah mengalami perbaikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa seniman Iran berusaha untuk mengurangi sisi keindahan foto Lehnert, sehingga foto itu tidak lagi terlalu menarik dan diberikan tambahan agar terlihat sebagai orang suci.
Akar Kristen?
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, sebagian tulisan menganggap bahwa hasil karya ini punya hubungan dengan Kristen dan bukan Islam. Masalah ini memberi justifikasi tidak berdosanya seorang muslim melihat wajah Nabi atau melukiskannya. Lebih dari pada itu, orang-orang Kristen menganggap Nabi Muhammad saw sejak mudanya sebagai pribadi yang suci. Kisah pendeta Kristen Katolik atau Ortodoks bernama Buhaira menyimpulkan itu. Berdasarkan kisah itu, pada abad 9 atau 10 Buhaira berusaha mencari Nabi Muhammad saw berdasarkan tanda-tanda yang dimiliki Nabi di antara pundaknya. Nabi akan datang semestinya berkata: “Ketika saya menengok ke langit dan bintang-bintang, saya merasa di atas bintang-bintang”. Ini juga sebuah alasan disebagian gambar Nabi Muhammad saw ada latar belakang bintang-bintang.
Sekalipun sampai saat ini tidak ada penggambaran tentang wajah Nabi Muhammad saw di masa mudanya, namun penggambaran itu ada dalam bentuk dewasanya. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw memiliki kulit putih, mata hitam, alis yang tebal,gGigi teratur dan rambut bergelombang. Bentuk yang digambarkan itu dapat ditemukan dalam poster Iran. Pada hakikatnya ini adalah sebuah gambar dari sebuah gambar lain. Dengan kata lain, pelukis Iran mengambil model Nabi Muhammad saw yang mencerminkan keindahan, keremajaan dan keserasian
Tulisan berikut ini adalah usaha untuk mencari sumber asli gambar masa muda Nabi Muhammad saw. Para penulis berusaha mengargumentasikan dari mana asal gambar itu. Namun, kelihatannya, masalah ini senantiasa terbuka untuk dijadikan kajian.
Tulisan ini adalah hasil terjemahan yang dilakukan oleh Rasul Ja’fariyah dari makalah yang judul aslinya The Story of Picture Shiite Depictions of Muhammad, Pierree Centlivre & Micheline Centlivres-Demont dalam majalah ISIM Review 17, Spring 2006, hal 18-19.
Syiah Iran punya pengalaman yang cukup panjang dalam menggambarkan keluarga Nabi Muhammad saw dan Nabi sendiri. Pada akhir-akhir dekade 90 –an poster yang menggambarkan wajah Nabi Muhammad saw di cetak di Iran dan menjadi salah satu poster terlaris. Dalam poster itu menggambarkan wajah masa muda dari Nabi Muhammad saw.
Saat ini, poster ini dicetak dengan mempergunakan teknologi modern dengan alat dan teknik yang beragam. Sekalipun demikian, struktur gambar masih mempertahankan gaya tradisionalnya. Warna yang dipakai masih mempertahankan kesederhanaan. Namun, tetap saja memiliki kelebihan yang membedakannya secara mudah dari gambar yang lain seperti pedang Ali as yang memiliki dua mata.
Penggambaran yang akan kami bawakan berbeda dengan penggambaran sebelumnya. Gambar seorang pemuda tampan, mata sendu dan wajah yang menenangkan hati mengingatkan orang akan gambar-gambar di zaman Renaisan. Terutama gambar-gambar tentang pemuda yang dilukis oleh Caravagio seperti lukisan Boy Carrying a Fruit Basket yang berada di galeri Borghese, Roma dan lukisan Saint John The Baptist di museum Capitole. Kelembutan bak beludru, mulut yang setengah terbuka dan tatapan sendu.
Sekalipun ada beberapa naskah dari gambar ini, namun semuanya menunjukkan kesan muda dan di bawahnya tertulis “Muhammad Rasulullah”, bahkan sebagian memberikan informasi lebih detil tentang periode kehidupan Nabi ketika lukisan ini dilukis serta sumber lukisan sekaligus.
Penemuan menarik
Pada tahun 2004, ketika menyaksikan pameran foto dua orang seni rupa Lehnert dan Landrock, secara tidak disengaja akhirnya tersingkap juga sumber poster Iran itu. Itu dapat dilihat di foto Lehnert sepanjang tahun 1904-1906 yang diambilnya di Tunisia. Foto ini kemudian pada dekade 20 –an dicetak dalam kartu ucapan selamat.
Radolf Franz Lehnert (1878-1948) adalah warga negara Chekoslowakia sekarang. Pada tahun 1904 bersama Ernst Heinrich Landorck (1878-1966) berkebangsaan Jerman, bersama-sama menuju Tunisia. Lehnert sebagai fotografer dan Landrock sebagai penerbit dan direktur. Tahun sebelumnya, Lehnert pernah tinggal sebentar di Tunisia. Saat itulah ia jatuh cinta dengan alam di sana dan penduduknya. Keduanya membangun perusahaan L & L yang beroperasi di bidang penerbitan foto-foto dari pemandangan indah Tunisia dan Mesir. Hasilnya adalah ribuan foto dan kartu dengan gambar daerah ini yang dicetak.
Lehnert pernah mengenyam pendidikan di Yayasan Seni Grafis di Vienna. Ia punya hubungan dengan anggota Pictorialist yang menganggap foto sebagai karya seni. Foto-foto Lehnert tidak saja berbicara mengenai gurun pasir, bukit-bukit pasir, pasar dan kawasan penduduk Tunisia, tapi juga foto-foto dari remaja putra dan putri yang umurnya antara anak dan remaja dan masih memiliki wajah antara laki dan wanita. Foto-foto ini biasanya diambil sesuai dengan pesanan pembeli Eropanya. Foto tentang dunia Timur yang memberikan nuansa lain.
Lehnert sangat memanfaatkan kesempatan ini, namun ia juga mengolah kejeniusannya dalam menyiapkan karyanya. Foto-fotonya dicetak dalam bentuk perak, dalam bentuk gambar timbul dan dibuat dalam empat warna. Kebanyakan dari kartu ucapan selamatnya ini dicetak di Jerman sejak tahun 1920 dan disebarkan di Mesir.
Cetakan-cetakan dan teks yang sesuai
Tidak diragukan bahwa kartu yang ditunjukkan dalam bentuk 1, berdasarkan penomoran L & L, nomornya adalah 106 dikenal dengan poster Iran. Yang lebih menarik nama kartu nomor 106 adalah Muhammad. Ini dengan sendirinya dapat menunjukkan mengapa pelukis Iran menjadikannya sebagai model untuk lukisan Nabi Muhammad saw. Tidak ragu lagi, semua naskah yang ada dari foto ini menjadikan foto nomor 106 sebagai contoh dengan perbedaan bahwa naskah pertama lebih sesuai dengan foto yang asli. Dengan demikian, Lehnert tanpa disengaja ditempatkan dalam hati sebuah legenda.
Pertanyaan mengenai hubungan antara wajah Nabi Muhammad saw dan wajah remaja Tunisia belum mendapatkan jawabannya. Lukisan seorang remaja tertawa dengan mulut setengah terbuka, memakai sorban dan bunga melati di telinga. Wajah yang sama dalam kartu yang lain dengan judul Ahmad, seorang remaja Arab dan lain-lainnya.
Kami belum mampu menyingkap perjalanan foto yang dicetak di dekade 20 –an yang sampai di tangan penerbit Teheran dan Qom di dekade 90 –an. Namun, masih ada pertanyaan apa yang menyebabkan penerbit Iran menemukan adanya kesamaan antara wajah Nabi Muhammad semasa remajanya dengan seorang remaja Tunisia?
Sebelum perang dunia pertama, gambar Muhammad di majalah National Geographic pada bulan Januari tahun 1914 dalam sebuah artikel dengan judul “Inja va Anja Dar Shumal Afriqa” (Di sana dan di sini di Utara Afrika), di bawahnya tertulis “Arabi ba Yek Gol” (Seorang Arab dengan sebuah bunga). Pada dekade dua puluhan, kartu seri Tunisia L & L sangat disukai oleh tentara Prancis di Utara Afrika. Pada dekade 80 dan 90 –an banyak buku yang dicetak yang memuat foto-foto ini, namun judulnya bukan Muhammad.
Naskah Iran yang sekarang sudah ada perubahan. Wajah yang menipu itu masih terjaga, namun keindahan wajahnya agak berkurang. Pundak sebelah kirinya agak lebih tertutup dengan kain, mulut dan matanya sudah mengalami perbaikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa seniman Iran berusaha untuk mengurangi sisi keindahan foto Lehnert, sehingga foto itu tidak lagi terlalu menarik dan diberikan tambahan agar terlihat sebagai orang suci.
Akar Kristen?
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, sebagian tulisan menganggap bahwa hasil karya ini punya hubungan dengan Kristen dan bukan Islam. Masalah ini memberi justifikasi tidak berdosanya seorang muslim melihat wajah Nabi atau melukiskannya. Lebih dari pada itu, orang-orang Kristen menganggap Nabi Muhammad saw sejak mudanya sebagai pribadi yang suci. Kisah pendeta Kristen Katolik atau Ortodoks bernama Buhaira menyimpulkan itu. Berdasarkan kisah itu, pada abad 9 atau 10 Buhaira berusaha mencari Nabi Muhammad saw berdasarkan tanda-tanda yang dimiliki Nabi di antara pundaknya. Nabi akan datang semestinya berkata: “Ketika saya menengok ke langit dan bintang-bintang, saya merasa di atas bintang-bintang”. Ini juga sebuah alasan disebagian gambar Nabi Muhammad saw ada latar belakang bintang-bintang.
Sekalipun sampai saat ini tidak ada penggambaran tentang wajah Nabi Muhammad saw di masa mudanya, namun penggambaran itu ada dalam bentuk dewasanya. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw memiliki kulit putih, mata hitam, alis yang tebal,gGigi teratur dan rambut bergelombang. Bentuk yang digambarkan itu dapat ditemukan dalam poster Iran. Pada hakikatnya ini adalah sebuah gambar dari sebuah gambar lain. Dengan kata lain, pelukis Iran mengambil model Nabi Muhammad saw yang mencerminkan keindahan, keremajaan dan keserasian
Selasa, 03 Februari 2009
Katakan
Kau berpaling muka kala bisa katakan cinta.
Kala kesempatan tiada, baru kau ungkapkan rasa.
Kau katakan kala ku tak lagi memerlukan.
Kenapa tak sedari dulu, saat masih terbuka kesempatan.
Kala kesempatan tiada, baru kau ungkapkan rasa.
Kau katakan kala ku tak lagi memerlukan.
Kenapa tak sedari dulu, saat masih terbuka kesempatan.
Kamis, 29 Januari 2009
diary today.....
di akhir penghujung kelas XII ini saya secara pribadi meminta maaf kepada seluruh teman-temanku. i'm not a perfect person, sudah tentu saya sudah banyak sekali berbuat kesalahan yang menyebabkan teman semua merasa di rugikan. di ruangan blog yg sempit dan sudah tentu tidak akan bisa menampung dosaku kepada teman semua. saya secara pribadi meminta maaf atas segala dosa-dosa yang telah aku perbuat.
TERIMA KASIH.....
TERIMA KASIH.....
Langganan:
Postingan (Atom)